About Me

Foto saya
Wanita Kantoran 08-17 ->> Reseller Kosmetik di rumah

Minggu, 27 September 2020

Bosan untuk bertahan?

Bila kamu ingin menyerah menyebrangi lautan,
Ingatlah dulu bagaimana sulitnya kamu mendapatkan kapalnya.
Bagaimana dulu memenangkan hati kaptennya,
Bagaimana dulu terombang ambing bersama ombak malam.

Bila kamu ingin menyerah bersepeda mencapai finish
Ingatlah dulu bagaimana sulitnya kamu belajar sepeda,
Bagaimana dulu sulitnya membeli sepeda,
Bagaimana dulu sakitnya saat terjatuh dari sepeda,
Namun tetap bangkit dan berdiri.

Bila kamu bosan dengan mainanmu dan ingin membuangnya,
Ingatlah, bagaimana dulu kamu menggebu-gebu ingin membelinya,
Bagaimana kamu terpesona pada pandangan pertama,
Bagaimana senangnya hatimu ketika mendapatkannya.

Ingatlah perjuangan yang pernah kamu lakukan
bukan pada perasaanmu yang sekarang.
karena pada dasarnya untuk memilinya saja sulit.
dan lebih sulit lagi untuk mempertahankannya!

Namun, kenapa di saat paradigma ini begitu mengakar..
hatiku mulai goyah?
di saat aku mengingat semua itu, hatiku semakin sakit.
meringis teringat kalau aku ternyata berjuang sendirian dan hampir mati tenggelam.

kemana aku berpegang?
kemana aku minta pertolongan?
masih sanggupkah aku bertahan?
apakah aku harus pasrah dengan keadaan?
cukupkah imanku sebagai pegangan?
Percaya kuasa Tuhan tidak ada batas dan tidak pernah salah?

Nona Campuran Lokal

Memandang lurus tanpa angan, kosong tanpa harapan. Bella terbaring dengan slang-slang yang menyambung di tubuhnya. Sudah hampir 3 bulan dia begini. Waktunya kini hanya di habiskan dikamar VIP RS. Bakti Jaya dan ruangan kemotrapi.

Setelah kecelakaan yang di alami Bella, mamah, papah, dan adiknya, Bella positive terkena kanker otak. Mamahnya meninggal, papahnya lumpuh, dan adiknya hidup dengan dunianya sendiri. Bella tinggal dengan om dan tantenya di Padang, jauh meninggalkan Samarinda, kota yg menurut Bella adalah kota penuh Kenangan buruk.

Awalnya Bella dapat menerima kenyataan harus kehilangan mamahnya, tapi setelah tahu kalau kecelakaan itu juga membawa penyakit baru di dlm tubuhnya, membuat Bella syok !!
Om dan tantenya pun tidak berdiam diri saat tahu penyakit yang di derita Bella. Mulai dari terapi, kemotrapi, dan operasi belum juga membawa kesembuhan total untuk Bella.
Bella sempat mencoba untuk bunuh diri karena terlalu putus asa, tapi mungkin memang belum jodoh mautnya. Bella masih hidup sampai detik ini walau dengan slang-slang tidak jelas yang menghiasi tubuhnya.

Besok pagi Bella akan di operasi lagi untuk yang ke-3 kalinya, kemungkinan berhasil hanya 30%. Om dan tantenya sebenarnya khawatir dengan operasi kali ini karena mereka tidak mau kehilangan Bella yang sudah seperti anaknya sendiri, tapi Bella begitu keras dengan pendapatnya. “Apa bedanya sih om, ade operasi atau gak ya tetap akan mati juga kan, all is well aja lah. Kalo memang umur ade panjang, semua akan baik-baik saja. semua sudah di atur Tuhan, Om.”

Malamnya Bella tidak bisa tidur, gelisah menunggu besok pagi. Perjuangan antara hidup dan matinya. Entah kenapa Bella jadi teringat mamahnya lagi. Terasa begitu merindukan sosok wanita yg selalu memanggilnya ‘cantik‘. Sudah lama Bella terbiasa untuk tidak mengingat kenangan-kenangan bersama mamahnya agar dia tidak menangis lagi dan lagi. Masih teringat jelas pula pertunangannya yang batal, tepat pada hari Bella sekeluarga kecelakaan. Yanuar pun syok, ketika tahu calon tunangannya terkena kanker otak. Bukannya Yanuar menghibur Bella, memberikan semangat kepadanya, dia malah pergi tanpa kabar. Semua cerita penuh kebahagiaan Bella berubah drastis setelah kecelakaan tragis itu. Tak heran tabiat Bella yang asalnya periang menjadi pendiam dan dingin.

Maaf bella, bukannya aku pengecut. Aku hanya ingin kamu yang dulu. Kamu yang sehat, yang nantinya bisa merawat anak-anak dan keluarga kita, tapi dengan penykitmu itu, Aku rasa itu sudah tidak mungkin. Jadi lebih baik kita akhiri semuanya di sni.       yaNuar..

Surat yang tanpa permisi masuk ke kamar Bella itulah yang membuat Bella begitu membenci laki-laki. Segampang itu kah dia di buang??? setelah semua dia berikan. Semudah itukah laki-laki menghapus janji-janjinya???
Hati Bella begitu hancur tak terkira. Setelah kehilangan mamahnya, dia juga harus kehilangan pria yang begitu di percayakannya. Pria yang ternyata tidak bisa menerima kekurangan pasangannya. PRIA EGOIS, sebut Bella.

Tok tok tok….  “Boleh saya masuk ???” Ketukan pintu dan sapaan itu membuyarkan flashback Bella sesaat. Di lihatnya sepintas siapa pemilik suara itu. “Silahkan dok,” kata Bella kemudian. Dokter Asbi adalah dokter spesialis kanker termuda di rumah sakit itu. Dia lulusan dari Amerika. Dia juga lah  yang akan menangani operasi Bella besok.

“Kenapa belum tidur nona?? Gugup besok ya,” katanya mencoba akrab dengan Bella, pasiennya.
“Iya dok.  Dokter sendiri kenapa belum pulang sudah selarut ini?? Gugup besok juga?” sindir Bella datar.
“Hahahahaa….. Kamu tetap seperti dulu, begitu angkuh di hadapanku Nona campuran lokal.”

Bella tersentak mendengarnya. Panggilan itu, panggilan spesial yang pernah dia miliki. Hanya satu orang yang memanggilnya dengan sebutan itu, ya..HANYA SATU. “Rizwar???”

“Masih ingat ya? Aku kira setelah kamu buang aku, kamu tinggalin aku, lalu kamu lupain,” sindir balik Rizwar.
“Kalau kamu tidak mengacuhkan ku dulu, aku tidak akan membuangmu. Kamu tau, aku  lebih mencintai kamu daripada Yanuar. Sayangnya , dia yang lebih memperhatikan aku daripada kamu ….”
“Tapi nyatanya kamu di campakkannya hanya dengan alasan penyakitmu saja kan ??” potong Rizwar ketus.
Bella terdiam, tak dapat menjawab apa-apa lagi karena dia memang kalah telak di sana.
“Kenapa diam ?? Aku benar atau salah ?” tantang Rizwar lagi.
“Masih perlu aku jawab?? Kalau kamu ke sini hanya untuk menertawakan ku sebelum kematian ku, kamu BERHASIL Rizwar Asbiandi Pratama. Silahkan tinggalkan kamar ku.” Bella mulai kesal dan marah.

“Terlalu membuang-buang waktu ku bila kedatanganku ke sini hanya untuk menertawakan wanita lemah macam kamu Bella Angelia Jolie Sukmadinata!!” seru Rizwar tak mau kalah ketus.

Bella tersentak begitu kagetnya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Rizwar, “Amerika membuat kamu menjadi orang yang tidak ku kenal Riz.”
“Mungkin. Aku ke sini tidak untuk membahas masa lalu kita. Aku kesini ingin membuat ‘deal’. Jika setelah operasi kamu masih bisa melihat dunia, berarti kamu harus menikah dengan ku. ‘Bonsoir Jolie’.”

Rizwar pergi tanpa pamit. Bella hanya bisa terdiam dan bingung. Ini mimpi apa nyata??  ini serius atau apa?? Ini taruhan atau apa??. *“‘{\"『……₩§§!?@

**** ****** ****** ********

‎"Aku kangen bunda abi, boleh kita ke makam bunda?? tanya Sinta, gadis kecil 7 tahun yang cantik seperti ibunya. Buah cinta Rizwar dan Bella.
"Tentu cantik... ganti baju dulu gih." Jawab Rizwar.
Dengan riang dia berlari menuju kamarnya sambil bersenandung tidak jelas. "Ke makam bunda.. hore hore ... ke makam bunda ..."
"Begitu mirip denganmu mah. Aku juga begitu merindukanmu mah, Nona campuran lokalku." kata Rizwar irih dan menyeka air matanya karena teringat kembali dengan Bella yang sudah 2 tahun ini meninggalkannya. “Walaupun kamu sudah tidak di sisiku sekarang mah, tapi aku tau kamu di sana memperhatikan kami. Terima kasih sayang, sudah memberikan Sinta untuk menemaniku, malaikat kecil kita. ‘Je aime Te’ Nona campuran Lokalku :)

Sungai Kenangan

Angin berhembus semilir, lagu-lagu adat Banjar terus didendangkan, tetap tidak bisa mengalahkan hiruk pikuk yang terdengar di setiap meja. Anak kecil berlari-larian, ada yang sibuk mengobrol dengan keluarga, ada yang asyik berdua dengan kekasihnya dan waiter yang hilir mudik membawakan pesanan.

Sambil menunggu pesananku, aku mengamati sekeliling. Rumah makan ini selalu ramai apalagi saat weekend. Tempatnya out door dengan view sungai dan pepohonan kelapa di sepanjang mata memandang.

Aku memilih duduk di dalam sebuah kapal besar, yang didekorasi dengan meja dan kursi kayu. Angin sepoi-sepoi berhembus tiada henti membawa hawa sejuk, meskipun sebenarnya sang surya seperti tidak ingin bersembunyi di balik awan.

Aku terus mengamati, apa hanya aku yang datang ke sini sendiri? Ya .. aku terjeabak di rumah makan ini sendirian! Kalau laptop termasuk teman, oke .. artinya aku berdua dengan teman. LOL.

Ntah, aku yang gila bekerja atau hanya pengalihan dari galau akibat putus tunangan beberapa bulan lalu. Weekend-pun aku sibukkan dengan bekerja. Kalo weekday jangan di tanya lagi, aku akan menghabiskan waktuku untuk lembur di kantor. Toh.. gak ada yang menungguku di rumah karena aku sebatang kara di Kota ini. Yapsss.. aku anak rantau! Hidup mandiri di kota orang.

Tiba-tiba semua kenangan malam itu kembali merasuki ingatanku ....

Aku melihat Randi masuk lobby hotel bersama seorang wanita, saat itu aku baru saja keluar dari meeting room hotel tersebut. Tanpa pikir panjang, aku mendekati mereka. "Sayang, ngapain di sini?"

Sontak dia berpaling dan terkejut melihaku. "Sayang ... eh .. sayang .." dia tergagap.

Aku menunggunya menjawab.

"Ini siapa Beb?"  Wanita sampingnya bertanya balik.

"Hmm... Ini beb .. diaa ini .. dia .. " dia tergagap kembali.

"Aku tunangannya, kamu siapa?" tanyaku ketus.

“Aku calon istrinya!”. Jawabnya sambil mengeratkan gandengannya ke Randi.

 

 

"Permisi mba, ini pesanannya." Suara waiter membuyarkan Flashback namun, hatiku kembali terenyuh. Dia yang biasanya ada di sampingku, dia yang memperlakukan aku like a queen, dia yang biasa dengerin curhatan aku, dia yang rewel kalo aku lagi ngelamun gini ..

Isshhhh ishhh.. Dia lagi, dia lagi! Semandiri apapun wanita, bisa cari uang sendiri, menyetir sendiri, kemana mana sendiri, tetap akan terjatuh dan terpuruk saat lelaki yang dicintainya memilih wanita lain.

Ku mencoba untuk menyentuh makanan yang telah disajikan, aku mencoba mencicipi ikan gabus panggang dengan "cacapan khas Banjarmasin" yang biasanya menggugah selera makanku. Ya makanan traditional di tempat traditional! Di sini juga lah aku sering makan berdua dengan Randi, ditemani dengan pemandangan sungai yang membentang, pepohonan kelapa yang berayun, semilir angin di siang yang terik, yang menjadi saksi bisu kebersamaan kami. Dan kini menjadi saksi bisu hancurnya hati seorang wanita tangguh dan mandiri yang selalu menggunakan lembur untuk alasan klise melarikan diri. Setidaknya terdengar sedikitttttt… lebih keren ya. Daripada masuk berita dikoran harian lokal, ditemukan wanita lemah yang putus asa di tinggal tunangannya demi wanita lain dan memilih mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai. Noooooooooooooo… its not me!

                “APAAAA?? CALON ISTRI? Mba-nya sehat? Dia ini Tunangan saya, bisa bisanya anda menyebut diri anda calon istrinya. MIMPI?” kataku tersulut emosi.

                “Eh, anda itu yang siapa? Dia ini calon suami saya dan calon ayah dari anak kami. Bulan depan kami akan menikah di sini. Hari ini kami akan meeting dengn WO dan pihak hotel. Jadi yang mimpi itu ANDA, nona!”. Jelas wanita itu tak mau kalah.

                Aku terdiam sesaat. She is pregnant? Wedding? Next month? Apa aku gak salah dengar? Ku tatap mata Randi, menunggu klarifikasi darinya. Namun, wajahnya tertunduk malu. Inikah lelaki yang begitu aku hormati?

                Well, aku ngerti dari diam mu, sayang. Terima kasih sudah mengecewakan aku dan seluruh rencana masa depan kita, keluargaku dan keluargamu. Thanks untuk sikap pengecutmu yang tidak berani mengutarakan hal yang sebenarnya dan membatalkan pertunangan kita secara sepihak. Semoga pernikahan kalian dan persalinannya nanti berjalan lancar. We done!” Aku memaksakan untuk tersenyum.

Wanita di samping Randi tersenyum puas, “Oke. Sudah clear ya mba! Maaf kami tinggal, kami sibuk mempersiapkan segalanya. Jangan lupa ya nanti datang ke pernikahan kami.” Mereka berlalu. Tanpa satu katapun dari Randi.

Ku lepas cincin pertunangan kami dan ku lempar ke trash bin. Tak bisa terbendung lagi airmataku. Rasa sakit ini biarlah mengalir bagaikan sungai, tetap mandiri berjuang untuk masa depan. Walaupun otak ini harus lembur berkerja menghapus semua kenangan kita.